Analisis Novel Salah Asuhan


II . Sinopsis Novel Salah Asuhan
Hanafi , laki -laki muda asli Minangkabau ,
berpendidikan tinggi dan berpandangan
kebarat -baratan . Bahkan ia cenderung
memandang rendah bangsanya sendiri . Dari
kecil Hanafi berteman dengan Corrie du Bussee ,
gadis Indo- Belanda yang amat cantik parasnya .
Karena selalu bersama – sama mereka pun saling
mencintai . Tapi cinta mereka tidak dapat
disatukan karena perbadaan bangsa. Jika orang
Bumiputera menikah dengan keturunan Belanda
maka mereka akan dijauhi oleh para sahabatnya
dan orang lain. Untuk itu Corrie pun
meninggalkan Minangkabau dan pergi ke
Betawi . Perpindahan itu sengaja ia lakukan
untuk menghindar dari Hanafi dan sekaligus
untuk meneruskan sekolahnya .
Akhirnya ibu Hanafi ingin menikahkan
Hanafi dengan Rapiah . Rapiah adalah sepupu
Hanafi , gadis Minangkabau sederhana yang
berperangai halus, taat pada tradisi dan
adatnya . Ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi
dengan Rapiah yaitu untuk membalas budi pada
ayah Rapiah yang telah membantu membiayai
sekolah Hanafi. Awalnya Hanafi tidak mau
karena cintanya hanya untuk Corrie saja. Tapi
dengan bujukan ibunya walaupun terpaksa ia
menikah juga dengan Rapiah . Karena Hanafi
tidak mencintai Rapiah , di rumah Rapiah hanya
diperlakukan seperti babu , mungkin Hanafi
menganggap bahwa Rapiah itu seperti tidak ada
apabila banyak temannya orang Belanda yang
datang ke rumahnya . Hanafi dan Rapiah
dikarunia seorang anak laki- laki yaitu Syafei .
Suatu hari Hanafi digigit anjing gila, maka
dia harus berobat ke Betawi agar sembuh . Di
Betawi Hanafi dipertemukan kembali dengan
Corrie . Disana , Hanafi menikah dengan Corrie
dan mengirim surat pada ibunya bahwa dia
menceraikan Rapiah . Ibu Hanafi dan Rapiah pun
sangat sedih tetapi walaupun Hanafi seperti itu
Rapiah tetap sabar dan tetap tinggal dengan Ibu
Hanafi . Perkawinannya dengan Corrie ternyata
tidak bahagia , sampai-sampai Corrie dituduh
suka melayani laki-laki lain oleh Hanafi .
Akhirnya Corrie pun sakit hati dan pergi dari
rumah menuju Semarang . Corrie sakit Kholera
dan meninggal dunia. Hanafi sangat menyesal
telah menyakiti hati Corrie dan sangat sedih atas
kematian Corrie , Hanafi pun pulang kembali ke
kampung halamannya dan menemui ibunya ,
disna Hanafi hanya diam saja. Seakan-akan
hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Hanafi
sakit , kata dokter ia minum sublimat (racun)
untuk mengakiri hidupnya, dan akhirnya dia
meninggal dunia.
III . Analisis Unsur Intrinsik
1 . Tema
Adapun tema yang terkandung dalam
novel Salah Asuhan adalah perbedaan adat
istiadat.
2 . Alur
Alur yang digunakan dalam novel Salah
Asuhan adalah alur maju karna pengarang
menceritakan kisahnya kemasa selanjutnya.
3 . Pusat Pengisahan /Sudut Pandang
Dalam novel Salah Asuhan , pengarang
bertindak sebagai orang ketiga yaitu
menceritakan kehidupan tokoh -tokoh pada
novel.
4 . Latar /setting
Latar atau tempat terjadinya yaitu :
1) Lapangan tennis .
“Tempat bermain tennis , yang dilindungi oleh
pohon- pohon kelepa disekitarnya, masih
sunyi” (hal .1 , paragraf 1 )
2) Minangkabau
“Sesungguhnya ibunya orang kampung, dan
selamanya tinggal di kampung saja, tapi
sebabkasihan kepada anak , ditinggalkannyalah
rumah gedang di Koto Anau, dan tinggallah ia
bersma-sama dengan Hanafi di
Solok.” ( halaman 23, paragraf 3 )
“Maka tiadalah ia segan -segan mengeluarkan uang
buat mengisi rumah sewaan di Solok itu secara
yang dikehendaki oleh anaknya .” (halaman 23,
paragraf 4 )
3) Betawi
“Dari kecil Hanafi sudah di sekolahkan di
Betawi ”(hal. 23, paragraph 1 )
“Sekarang kita ambil jalan Gunung Sari, Jembatan
Merah Jakarta, Corrie!” (halaman 103 , Paragraf
2)
4) Semarang
“Pada keesokan harinya Hanafi sudah dating pula
ke rumah tumpangan itu , dan bukan buatan
sedih hatinya, demikian mendengar bahwa
Corrie sudah berangkat . Seketika itu ia berkata
hendak menurutkan ke Semarang .” (halaman
186 , paragraf 8)
5) Surabaya
“Di Surabaya mereka menumpang semalam di suatu
pension kecil, mengaku nama Tuan dan Nona
Han.” ( halaman 144 , paragraf 1 )
5 . Tokoh
1) Hanafi , wataknya keras kepala , kasar
a) keras kapala
“Memang … .kasihan! Ah ibuku …aku pengecut tapi
hidupku kosong…habis cita-cita baik…enyah !. ”
Halaman 259 , paragraf 8 )
b ) kasar
“ Hai Buyung! Antarkan anak itu dahulu
kebelakang!” kata Hanafi dengan suara bengis
dari jauh .” ( halaman 80, paragraf 2 )
2) Corrie , wataknya baik , mudah bergaul
a) baik
“O , sigaret tante boleh habiskan satu dos . Sudah
tentu enak , ayoh coba!” (halaman 164 , paragraf
8)
b ) mudah bergaul
“Oh , ruangan di jantung tuan Hanafi amat luas, ”
kata Corrie sambil tertawa, “buat dua tuga
orang perempuan saja masih berlapang –
lapang .” (halaman 7, paragraf 2 )
3) Rapiah , wataknya sabar, baik
a) sabar
“Rapiah tunduk, tidak menyahut , airmatanya saja
berhamburan. Syafei , dalam dukungan ibunya
yang tadinya menangis keras, lalu mengganti
tangisnya dengan beriba -iba . Seakan-akan
tahulah anak kecil itu, bahwa ibunya yang tdak
berdaya, sedang menempuh azab dunia dan
menanggung aib di muka -muka
orang.” ( halaman 83, paragraf 4 )
b ) baik
“Apakah ayahmu orang baik ? Uah sungguh –
sungguh orang baik . Kata ibuku tidak adalah
orang yang sebaik ayahku itu. ” (halaman 238 ,
paragraf 5 )
4) Ibu Hanafi , wataknya sabar dan baik
a) sabar
“Astagfirullah , Hanafi ! Turutilah ibumu
mengucap menyebut nama Allah bagimu dan
tidak akan bertutur lagi dengan sejauh itu
tersesatnya” ( halaman 85, paragraf 4 )
b) baik
“Sekarang sudah setengah tujuh, sudah jauh
terlampau waktu berbuka , Piah ! Sebaik- baiknya
hendaklah engkau pergi makan
dahulu .” ( halaman 119 , paragraf 4)
5) Tuan Du Busse , wataknya tegas
“Tapi Corrie mesti bersekolah yang sepatut-
patutnya” (halaman 10 , paragraf 5)
6) Si Buyung, wataknya penurut
“Kau kugaji buat kesenanganku dan bukan buat
bermalas-malas . Hamba disuruh kejalan. Diam !
Bawa anak itu ke belakang. Angkat teh ke
dapurl alu menceritakan apa yang
diperintahkan kepadanya. Oleh karena gula
habis’ terpaksalah ia disuruh ke toko yang tidak
berapa jauh letaknya dari rumah. ” (halaman 80,
paragraf 2 )
7) Syafei , wataknya berani
“Itulah yang kusukai , bu . Sekian musuh nanti
kusembelih dengan pedangku. ” (halaman 196 ,
paragraf 8 )
6 . Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalan novel
Salah Asuhan ini cukup sulit untuk diartikan.
Karna novel ini adalah novel lama dan dilamnya
juga terdapat bahasa Belanda . Pada novel ini
juga terdapat :
a) Peribahasa
“saat ini , air mukamu jerni , keningmu licin,
bolehkah ibu menuturkan niatku itu, supaya
tidak menjadi duri dalam daging ” (halaman 25,
paragraf 3 )
b) Majas perbandingan ( perumpamaan)
“Sesungguhnya tiadalah berdusta apabila ia
berkata sakit kepala , karna sebenarnyalah
kepalanya bagai dipalu ” ( halaman 47, paragraf
2)
7 . Amanat
Adapun amanat yang terkandung dalam
novel Salah Asuhan adalah :
1) Janganlah melupakan adat istiadat negeri
sendiri , jikalau ada adat istiadat dari bangsa
lain, boleh saja kita menerima tapi harus pandai
memilih, yaitu pilihlah adat yang layak dan baik
kita terima di negeri kita.
2) Jangan memaksakan suatu pernikahan yang
tidak pernah diinginkan oleh pengantin
tersebut, karena akhirnya akan saling menyiksa
keduanya.
8. Diksi
Pemilihan kata pada novel Salah Asuhan ini
cukup sulit untuk dimengerti karena banyak
terdapat bahasa Belanda.
IV . Analisis Unsur Ekstrinsik
1 . Latar belakang penciptaan karya sastra
Berasal dari luar diri pengarang , karena pada
novel ini pengarang hanya sebagai sudut
pandang orang ketiga .
2 . Sejarah dan latar belakang pengarang
Abdoel Moeis ( lahir di Sungai Puar, Bukittinggi ,
Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – wafat di Bandung,
Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun)
adalah seorang sastrawan dan wartawan
Indonesia . Pendidikan terakhirnya adalah di
Stovia ( sekolah kedokteran, sekarang Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia) , Jakarta akan
tetapi tidak tamat . Ia juga pernah menjadi
anggota Volksraad yang didirikan pada tahun
1916 oleh pemerintah penjajahan Belanda .
3 . Kondisi masyarakat saat karya sastra
diciptakan .
Pengarang menciptakan novel ini karena
berdasarkan kehidupan sosial masyarakat pada
masa itu yang menceritakan seseorang yang
melupakan adat istiadatnya.
V . Relevansi dengan zaman sekarang.
Dalam novel Salah Asuhan ini , banyak menceritakan tentang
kedurhakaan seorang anak pada ibunya . Yang
mana pada zaman sekarang ini juga banyak
anak yang durhaka pada ibunya . Bahkan
sampai- sampai anak tersebut disumpahi oleh
ibunya . Disini juga dijelaskan bahwa adanya
orang yang melupakan adat istiadatnya sendiri .
Sebagaimana kita tahu bahwa remaja saat ini
juga bersikap demikian .

Categories: Lifestyle, Trik and Tips, Unik | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: